Jumat, 19 April 2013

Asal Mula Negara ( Ilmu Negara )


WELLY DANY PERMANA
FAKULTAS HUKUM UNIBRAW 
2008


BAB II
PEMBAHASAN

1.Teori Organis
Jaman Yunani Kuno
Aristoteles
            Aristoteles adalah murid terbesar daripada Plato. Ia hidup antara tahun 384-322 SM. Ia adalah putera dari Nicomachus, seorang tabib pribadi pada istana raja di Macedonia. Pada waktu itu ia berusia 17 tahun,ia pergi ke Athena dan menjadi murid Plato. Pernah pada tahun 342 SM diberi tugas yang maha berat tetapi mulia oleh raja Philipus untuk mendidik puteranya Iskandar Dzulkarnaen ( Alexander Yang Agung ) yang kemudian hari beliau ini menciptakan Imperium ( Kerajaan Dunia ).
            Aristoteles adalah seorang pencipta daripada ajaran realisme, Aristoteles memang melanjutkan cara berpikir Plato yang daripada jaran idealisme ke ajaran realisme. Karena Aristoteles menyelidiki sifat sifat umum daripada segal;a-galanya di duniua ini maka timbullah ajaran ilmu pengetahuan baru yaitu Prima philosophia, suatu ajaran filsafat yang pertama mencari hakekat yang dalam daripada apa yang ada,jadi mencari makna keadaan. Oleh karena itu filsafatnya adalah merupakan sutu ajaran tentang kenyataan atau ontologi, suatu cara berpikir yang realistis.
            Dalam pendapatnya tentang terjadinya Negara mengatakan bahwa Negara adalah merupakan kesatuan keluarga yaitu penggabungan keluarga menjadi suatu kelompok yang lebih besar, kelompok itu bergabung lagi hingga menjadi desa, dan desa ini bergabung lagi, demikian seterusnya. Dan dalam bentuknya yang tertinggi, dan yang mempunyai tujuan beraneka macam, dengan secara berangsur-angsur kesatuan itu berekembang dan akhirnya mencapai bentuknya sebagai Negara. Jadi ajarannya bersifat organistis.
Menurut Aristoteles Negara itu merupakan satu kesatuan yang tujuannya untuk mencapai kebaikan yang tertinggi yaitu kesempurnaan diri manusia sebagai anggota daripada Negara. Paham yang mengutamakan kepentingan Negara atau masyarakat itu disebut collectivisme.
Jaman Abad Pertengahan
2. Teori Ketuhanan
            Augustinus             
            Augustinus hidup pada tahun 354-430.  Ia adalah seorang Kristen. Di dalam bukunya pengakuan ia telah menulis riwayat hidupnya sendiri Di dalam buku itu dikatakan bahwa ia hidup dalam keadaan dualism maksudnya ia hidup dalam masa peralihan dari peradaban yang satu ke peradaban yang lain. Augustinus menulis buku yang diberi nama De Civita te Dei, tentang Negara Tuhan dan teorinya yang dikenal dengan teori Matahari Bulan.
            Menurut Agustinus yang ajarannya sangat bersifat teokratis, dikatakan bahwa kedudukan gereja yang dipimpin oleh paus itu lebih tinggi daripada kedudukan Negara yang diperintah oleh raja. Dikatakan bahwa Negara di dunia ini merupakan suatu kejelekan tetapi adanya itu merupakan suatu keharusan. Yang penting itu adalah terciptanya suatu Negara seperti yang diangan-angankan oleh agama, yaitu kerajaan Tuhan.
Di dalam bukunya Augustinus menyebutkan adanya dua macam Negara, yaitu :
1.      Civitas Dei, atau Negara Tuhan.
2.      Civitas Terrena, atau Diaboli atau Negara Iblis atau Negara Duniawi.
Pada dasarnya Negara itu pemberian Tuhan dan dipimpin oleh Paus dan pada saat itu dianggap hukum agama ( gereja ) lebih daripada hukum Negara.

Jaman Kaum Monarkomaken
3. Teori Perjanjian Masyarakat
Johannes Althusius
Johannes Althusius atau Johan Althaus. Ia adalah seorang monarkomaken yang calvanis. Pada tahun 1610 ia menerbitkan buku karangannya yang sangat terkenal, Polithica Methodice Digesta. Althusius hidup pada tahun 1568-1638. Dalam pendapatnya tentang terjadinya Negara Althusius banyak persamaannya dengan pendapat Aristoteles, yaitu mengatakan bahwa Negara adalah merupakan kesatuan keluarga.
Menurut Althusius raja itu berkuasa bukan karena kehendak Tuhan, tetapi kehendak dari masyarakat, yang mana masyarakat inilah bentukan dari para individu. Kemudian masyarakat ini dengan jalan atau melalui perjanjian memberikan kekuasaannya kepada seseorang untuk memerintah dalam Negara itu. Orang inilah yang disebut raja. Lalu kalau demikian halnya dari manakah kekuasaan yang ada pada rakyat atau individu-individu itu? Ini dipersoalkan karena orang itu hanya dapat memberikan sesuatu kalau ia sendiri memilikinya. Disini individu-individu itu sebelumnya sudah harus memiliki kekuasaan. Menurut Althusius asal kekuasaan individu-individu ini adalah dari perjanjian masyarakat. Dengan mengadakan perjanjian itu yang berdasarkan atas kemauan atau kehendak daripada individu itu sendiri, rakyat lalu merupakan satu kesatuan, yang memiliki hak untuk memerintah dan kemudian dengan jalan perjanjian penundukan kekuasaan itu diserahkan kepada raja.
Menurut Althusius ini semua berasal dari suatu hukum, Jadi dengan demikian teranglah sekarang bahwa dasar dari kekuasaan raja bukanlah berasal dari Tuhan. Tetapi berasal atau berdasar dari suatu hukum, jadi timbul dasar baru yaitu dasar hukum. Tapi pengertian hukum disini adalah hukum alam kodrat  yaitu hukum yang ditetapkan berlaku secara umum yang tidak bergantung pada tempat dan waktu. Artinya dimana dan bilamana hukum itu berlaku. Maka Negara atau raja tidak memiliki kedaulatan yang memiliki adalah rakyat sebagai satu kesatuan .
Jaman Berkembangnya Hukum Alam
            Jean Jacques Rousseau
            Ia hidup pada tahun 1712-1778, Rousseau adalah seorang pemikir besar tentang Negara dan hukum dari Swiss. Ajarannya tentang Negara dan huku ditulis dalam buku-bukunya : Discours sur inegalite parmi les homes dan bukunya yang sanga terkenal diseluruh dunia Contrat Social ( Perjanjian Masyarakat )
            Manusia in Abstracto yaitu dalam keadaan alam bebas ada kekacauan maka orang memerlukan jaminan atas keselamatan jiwa miliknya.. Oleh karena itu masyarakat tersebut melakukan perjanjian masyarakat, merupakan satu kesatuan mempunyai kemauan umum yang oleh Rosseau disebut Volonte Generale dan akan membentuk masyarakat yaitu kesatuan daripada orang orang yang menyelenggarakan perjanjian masyarakat tadi. Masyakat inilah yang memiliki kemauan umum yaitu suatu kekuasaan yang tertinggi atau kedaulatan yang tidak dapat dilepaskan dan disebut kedaulatan rakyat.

Jaman Berkembangnya Teori Kekuatan
4.Teori Kekuatan
            F. Oppenheimer
            Dalam bukunya Die Sache, mengatakan bahwa Negara itu adalah merupakan suatu alat dari golongan yang kuat untuk melaksanakan suatu tertib masyarakat, yang oleh golongan yang kuat tadi dilaksanakan kepada golongan yang lemah dengan maksud untuk menyusun dan membela kekuasaan dari golongan yang kuat tadi, terhadap orang orang baik dari dalam maupun dari luar terutama dalam sistem ekonomi. Sedangkan tujuan terakhir dari semunya adalah penghisapoan ekonomis terhadap golongan yang lemah oleh golongan yang kuat tadi.
            Karl Marx
            Sedangkan menurut Karl Marx Negara itu adalah merupakan penjelmaan daripada pertentangan pertentangan kekuatan ekonomi. Negara digunakan sebagai alat untuk mereka yang kuat untuk menindas golongan golongan yang lemah ekonominya. Yang dimaksud golongan yang kuat disini adalah mereka yang memiliki alat produksi. Negara menurut Karl Marx ini akan lenyap apabila tidak terdapat lagi pertentangan pertentangan ekonomi.
\           H.J. Laski
            Dalam bukunya The State in Theory and Practice dia berpendapat bahwa Negara itu adalah suatu alat pemaksa untuk melaksanakan suatu jenis sistem produksi yang stabil dan pelaksanaan system produksi ini semata mata akan menguntungkan golongan yang kuat yang berkuasa.Jadi teranglah bahwa Negara itu hanya sebagai alat dari yang kuat, yang berkuasa, untuk melaksanakan kepentingannya.



5. Teori Positivisme
            Hans Kelsen
            Hans Kelsen adalah pemikir besar tentang Negara dan hukum dari Austria yang kemudian menjadi warga Negara Amerika. Bukunya antara lain Allegemeine Staatslehre terbit pada tahun 1925. Ia mendirikan sekolah Wiena.
            Teori Positivisme menyatakan bahwa tak usah mempermasalahkan asal mula Negara karena kita tidak mengalaminya sendiri. Kalau sekarang timbul atau ada Negara itu bukanlah merupakan suatu kelahiran yang asli tetapi hanyalah merupakan kelahiran kembali daripada Negara yang ada pada jaman dahulu.Maka aliran positivism lalu mengatakan, kalau kita kan membicarakan Negara katakanlah Negara itu sebagaimana apa adanya.
6. Teori Modern
            Logemann
            Logemann mengatakan bahwa Negara itu hakekatnya adalah suatu organisasi kekuasaan yang meliputi atau menyatukan kelompok manusia yang kemudian disebut bangsa. Jadi pertama tama Negara adalah organisasi kekuasaan, maka organisasi tersebut memiliki kewibawaan atau gezag dalam mana mengandung pengertian dapat memaksakan kehendaknya kepada semua orang yang yang diliputi oranisasi tersebut. Jadi Logemann berpendapat bahwa yang primer itu dalah organisasi kekuasaanya yaitu Negara. Sedangkan kelompok manusianya adalah sekunder.



BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
            Teori kekuatan menyatakan Negara itu adalah merupakan suatu alat dari golongan yang kuat untuk melaksanakan suatu tertib masyarakat, yang oleh golongan yang kuat tadi dilaksanakan kepada golongan yang lemah dengan maksud untuk menyusun dan membela kekuasaan dari golongan yang kuat tadi, terhadap orang orang baik dari dalam maupun dari luar terutama dalam sistem ekonomi. Sedangkan tujuan terakhir dari semunya adalah penghisapoan ekonomis terhadap golongan yang lemah oleh golongan yang kuat tadi dan tokohnya adalah F.Oppenheimer.Karl Marx, H.J. Laski
            Teori Ketuhanan berpendapat Pada dasarnya Negara itu pemberian Tuhan dan dipimpin oleh Paus dan pada saat itu dianggap hukum agama ( gereja ) lebih daripada hukum Negara. Dan tokohnya adalah Augustinus, Thomas Aquinas, Marsillius.
Teori Perjanjian Masyarakat berpendapat dengan mengadakan perjanjian yang berdasarkan atas kemauan atau kehendak daripada individu individu itu sendiri, rakyat lalu merupakan satu kesatuan, yang memiliki hak untuk memerintah dan kemudian dengan jalan perjanjian penundukan yaqng diserahkan kepada raja. Dan tokohnya adalah Althusius, J.J.Rosseau.
Teori Organis berpendapat Negara adalah merupakan kesatuan keluarga yaitu penggabungan keluarga menjadi suatu kelompok yang lebih besar, kelompok itu bergabung lagi hingga menjadi desa, dan desa ini bergabung lagi, demikian seterusnya. Dan tokohnya adalah Aristoteles.
Teori Positivisme menyatakan bahwa tak usah mempermasalahkan asal mula Negara karena kita tidak mengalaminya sendiri. Kalau sekarang timbul atau ada Negara itu bukanlah merupakan suatu kelahiran yang asli tetapi hanyalah merupakan kelahiran kembali daripada Negara yang ada pada jaman dahulu.Maka aliran positivism lalu mengatakan, kalau kita kan membicarakan Negara katakanlah Negara itu sebagaimana apa adanya. Dan tokohnya adalah Hans Kelsen.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar